Friday, October 12, 2012

Penggunaan Teknik Konseling Self-Instruction Untuk Mengatasi Stress Akademik Siswa


Self-Instruction Training merupakan sebuah metodologi yang diadaptasi dari modifikasi konseling kognitif perilaku yang dikembangkan oleh Meichenbaum pada tahun 1977. Meichenbaum menduga bahwa beberapa perilaku maladaptif dipengaruhi oleh pikiran irasional yang menyebabkan verbalisasi diri yang tidak tepat (Baker & Butler, 1984).

Pendekatan self-instruction ini merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri dengan   menggunakan verbalisasi  diri  sebagai rangsangan dan penguatan selama menjalani treatment (Blackwood, et al., dalam Tang, 2006:76 ). Self instruction  Training  adalah suatu teknik untuk membantu  klien terhadap apa yang konseli katakan kepada dirinya dan menggantikan pernyataan diri  yang  lebih adaptif  (Ilfiandra, 2008).  Hal ini berdasarkan pada asumsi Meichenbaum (Baker & Butler, 1984) yang menyatakan bahwa individu yang mengalami perilaku salah  suai  dikarenakan  pikiran  irasional yang diakibatkan kesalahan dalam melakukan verbalisasi diri. Oleh karena itu teknik self- instruction berperan untuk mengganti verbalisasi diri yang kurang tepat dengan verbalisasi yang lebih dapat diterima. Safaria (2004:75) menjelaskan ada tiga cara dalam menerapkan teknik self-instruction, yaitu :
  1. Metode non direktif yaitu dengan  memberikan  instruksi kepada konseli, kemudian konseli mencobanya secara berulang-ulang melalui aktivitas dan verbalisasi.
  2. Metode  interaktif  yang  dipasangkan  dengan  teknik  kontrol  diri  seperti monitoring diri, evaluasi diri, dan penguatan diri.
  3. Metode penerapan modeling, imitasi, dan eksekusi. Yakni terapis pertama tama  mencontohkan,   kemudian  konseli  menirukannya bersama terapis, setelah konseli mampu maka konseli diinstruksikan untuk mengerjakannya sendiri.
Dalam menangani masalah stres akademik, teknik self-instruction yang digunakan adalah model  Meichenbaum &  Goodman  (Rokke &  Rehm  dalam Sugara, 2011:36) yang menyatakan bahwa terdapat tiga tahapan yang digunakan dalam teknik ini yaitu :
  1. Tahapan  pertama  yaitu  pengumpulan  informasi  yang berkaitan  dengan konseptualisasi masalah yang dihadapi. Dalam tahapan ini konseli diharapkan ebih sensitif terhadap pikiran, perasaan, perbuatan, reaksi fisiologis dan pola reaksi terhadap orang lain dan lingkungan belajar.
  2. Tahapan  kedua  yaitu  melakukan  konseptualisasi  terhadap  masalah.  Pada tahapan  ini  konselor  merencanakan intervensi dalam konteks melakukan observasi terhadap masalah. Konselor mengidentifikasi pikiran dan perasaan yang irasional yang menyebabkan terjadinya masalah.
  3. Tahapan ketiga yaitu melakukan perubahan langsung. Tahapan ini merupakan tahapan perubahan perilaku dengan menggunakan ungkapan diri.
Teknik self-instruction yang digunakan dalam mereduksi stres akademik ini bertujuan untuk melakukan restrukturisasi sistem berpikir melalui perubahan verbalisasi  diri  yang  positif  sehingga  melahirkan  perilaku  yang  lebih  adaptif Adapun prosedur dalam melakukan teknik self-instruction untuk mereduksi stres akademik  yang  disebutkan  oleh Meichenbaum  &  Goodman (Bryant  &  Budd, 1982) adalah sebagai berikut :
  1. Konselor menjadi model dengan memverbalisasikan langkah-langkah dalam self-instruction  dengan suara keras.
  2. Konseli  melakukan  verbalisasi  seperti  yang  dicontohkan  oleh  konselor dengan suara keras.
  3. Konseli mengungkapkan verbalisasi diri dengan suara yang keras seperti apa yang konselor bisikkan kepadanya.
  4. Konseli  mengungkapkan  verbalisasi  diri  dengan suara berbisik  dengan melihat gerak bibir konselor yang memberikan isyarat kepadanya.
  5. Konseli melakukan tugasnya dengan hanya menggerakkan bibir dan tanpa suara.
  6. Konseli  diminta  untuk  mengucapkan  kata-kata  untuk  dirinya  sendiri  saat melakukan teknik ini.
Verbalisasi dalam self-instruction yang diajarkan disini mencakup lima tipe,  yaitu  :  a) berhenti  dan  lihat;  b) bertanya  mengenai  tugas  yang diberikan (misalnya  “Apa  yang  guru  inginkan  dari  saya”); c)  menjawab  pertanyaan mengenai  tugas  yang  diberikan  (misalnya  “Benar,  saya  harus  bisa  memenuhi harapan  mereka); d)  self-instruction  untuk  membimbing  konseli  melalui  tugas (misalnya,  “yang  ini  terlihat  sama  dengan  yang  itu,  jadi  saya  memilih  yang berbeda dari keduanya); dan e) pengakuan diri bahwa tugas telah terselesaikan (misalnya, “saya telah melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik”) (Bryant & Budd, 1982: 265).

Self-instruction  training  dimaksudkan sebagai strategi pemecahan masalah yang  dialami oleh anak.  Sesuai  dengan  pendapat  Meichenbaum  dan Asarnow bahwa seharusnya  mengajarkan anak untuk  tidak  berpikir “apa” melainkan“bagaimana” dalam melakukan  sesuatu, serta untuk memfasilitasi prosedur  mediasi  kognitif  dalam  memecahkan  permasalahan  anak  (Bryant  & Budd, 1982: 260).

Self-instruction training telah terbukti efektif dalam meningkatkan performa anak-anak dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah (Douglas, Parry, Marton, & Garson, 1976; Kendall & Finch, 1978; Meichenbaum & Goodman, 1971;  Palkes,  Stewart,  &  Freedman,  1972;  Palkes,  Stewart,  &  Kahana,  1968; Robin,  Armel, & O'Leary,  1975  dalam  Bryant  &  Budd,  1982:  260).  Hasil penelitian  tersebut senada  dengan  hasil peneletian  Gueveremont et al., (1988) yang menyatakan bahwa self-instruction training yang diterapkan pada beberapa anak usia pra sekolah dapat mengubah cara anak tersebut dalam merespon tugas akademik (Vintere et al., 2004:306).

Mischel (Safaria, 2004:75) mengemukakan hasil  studinya bahwa anak dapat menunda keinginannya dan mengatasi godaan melalui penggunaan strategi coping verbal seperti self-talk, self-instruction, self-sugestion. Sedangkan menurut Rusch& Kostewicz (O’Donohue & Fisher, 2009: 235) self-instruction training dapat meningkatkan tanggung jawab siswa untuk memberi tanggapan secara tegas berdasarkan situasi yang mereka hadapi untuk mencari solusi atas permasalahannya secara mandiri.

Refrensi :

  1. http://wawasanbk.blogspot.com/2012/10/penggunaan-teknik-self-instruction.html
  2. Baker, Stanley B. & James N. Butler. (1984). Effect of Preventife Cognitive Self- Instruction  Training  on  Adolescent  Attitudes,  Experiences,  and  State Anxiety. Journal of Premary Prevention. Vol. 5(1), 17-25.
  3. Bryant,  Lorrie  E  &  Karren  S.  Budd.  (1982).  Self  Instructional  Training  To Increase  Independent  Work  Performance  In  Pre  School.  Journal  of Applied Behaviour Analysis. Vol. 15(2), 56-67.
  4. Ilfiandra.  (2008).  Model  Konseling  Kelompok  Berbasis  Pendekatan  Kognitif Perilaku Untuk Mengurangi Gejala Prokrastinasi Akademik. (Disertasi). Bandung: SPS UPI.
  5. Safaria, T & Saputra, N. (2009). Manajemen Emosi. Jakarta : Bumi Aksara. Sugara,   Gian   Sugiana.   (2011).   Efektivitas   Teknik   Self-Instruction   dalam Menangani Kejenuhan Belajar. Skripsi PPB FIP UPI Bandung: Tidakditerbitkan.
  6. Tang, Chang Jung, (2006). The Effects of Self-Instruction Strategy on the Time Spent on Putting on Shoes Behavior in One Student with Cerebral Palsy. Journal of Chang Gung Institute of Technology. Vol. 6, 75-84.
  7. http://wawasanbk.blogspot.com/


2 comments:

Fazrah Suleman said...

asslmkm...
ada referensi jurnal/skripsi/buku ttg teknik self-instruction??
mhn bantuannya yaaa...
trimksih banyak..

Ristra Sandra Ritonga said...

ya, plis judul buku tentang self instructionnya.....

Post a Comment

 
Copyright Wawasan BK All Rights Reserved
ProSense theme created by Dosh Dosh